Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Monyi MikirSelamat berjumpa kembali para pengunjung setia BANGKURSOBO’S BLOG!

Pada terbitan kali ini masih kami tampilkan kembali lanjutan dari MODEL-MODEL PEMBELAJARAN yang juga masih disarikan dari materi bimtek ktsp-nya depdiknas.

Harapan kami ini semua dapat menambah wawasan kita bersama.

Silahkan diadopsi, dimodifikasi, dan dikembangkan dengan kreativitas masing-masing, demi pembelajaran yang  variatif, kreatif dan menyenangkan.

 

MODEL PEMBELAJARAN

( XIII )

D E B A T

Langkah-langkah :

  1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lainnya kontra
  2. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh    kedua kelompok di atas
  3. Setelah selesai membaca materi, Guru menunjuk salah satu anggota kelompok  pro untuk berbicara saat itu, kemudian ditanggapi oleh kelompok kontra.    Demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik bisa mengemukakan pendapatnya.
  4. Sementara peserta didik menyampaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide   dari setiap pembicaraan sampai mendapatkan sejumlah ide yang diharapkan.
  5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
  6. Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak peserta didik membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

 

MODEL PEMBELAJARAN

( XIV )

ROLE PLAYING

Langkah-langkah :

  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM
  3. Guru membentuk kelompok peserta didik yang anggotanya 5 orang
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
  5. Memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
  6. Masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan
  7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok.
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
  10. Evaluasi
  11. Penutup

 

MODEL PEMBELAJARAN

( XV )

GROUP INVESTIGATION

Langkah-langkah :

  1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
  2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
  3. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
  4. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif  yang bersifat penemuan
  5. Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok
  6. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
  7. Evaluasi
  8. Penutup

 

MODEL PEMBELAJARAN

( XVI )

TALKING STICK

Langkah-langkah :

  1. Guru menyiapkan sebuah tongkat
  2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi.
  3. Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, peserta didik menutup bukunya.
  4. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
  5. Guru memberikan kesimpulan
  6. Evaluasi
  7. Penutup

Semoga bermanfaat,

Move On !!

Salam,

-si bangkur-

Mbah Surip

Hallo pengunjung setia BANGKURSOBO’S BLOG,

diedisi kali ini kami tampilkan lagi lanjutan Model     Pembelajaran yang disarikan dari materi bimtek ktsp-nya depdiknas. Silahkan diadopsi, dimodifikasi, dan dikembangkan dengan kreativitas masing-masing, demi pembelajaran yang  variatif, kreatif dan menyenangkan.

MODEL PEMBELAJARAN

( 9 )

ARTIKULASI

Langkah-langkah :

  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
  • Untuk mengetahui daya serap peserta didik, dibentuklah kelompok berpasangan dua orang.
  • Menugaskan salah satu peserta didik dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu pula kelompok lainnya.
  • Menugaskan peserta didik secara bergiliran/diacak menyampaikan penjelasan teman pasangannya. Sampai sebagian peserta didik sudah menyampaikan penjelasannya.
  • Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami peserta didik.
  • Kesimpulan/Penutup.

MODEL PEMBELAJARAN

( 10 )

MENCARI PASANGAN

Langkah-langkah :

  • Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  • Setiap peserta didik mendapat satu kartu.
  • Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
  • Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban).
  • Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu, diberi poin.
  • Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.
  • Demikian seterusnya.
  • Kesimpulan/penutup.

MODEL PEMBELAJARAN

( 11 )

THINK PAIR AND SHARE

Langkah-langkah :

  • Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Peserta didik diminta untuk berfikir tentang materi / permasalahan yang disampaikan guru.
  • Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing.
  • Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
  • Berawal dari kegiatan tersebut, guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik.
  • Guru memberi kesimpulan.
  • Penutup.

MODEL PEMBELAJARAN

( 12 )

MIND MAPPING

Langkah-langkah :

  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban.
  • Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang.
  • Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi.
  • Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat dipapan tulis dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru.
  • Dari data data dipapan tulis, peserta didik diminta membuat kesimpulan, atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru.

Semoga bermanfaat,

Sukses selalu,

Nantikan lanjutan model pembelajaran yang lain di edisi mendatang……

Salam!!

-sibangkur-

Dalam edisi kali ini kami tampilkan lanjutan Model-Model Pembelajaran, kantor dindikpora kab wsbdengan harapan dapat diadopsi, dimodifikasi, dan dikembangkan dengan kreativitas masing-masing, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan menjadi variatif, kreatif dan menyenangkan.

MODEL PEMBELAJARAN

( 5 )

COOPERATIVE SCRIPT

Langkah-langkah :

  • Guru membagi peserta didik untuk berpasangan.
  • Guru membagikan wacana/materi untuk dibaca dan dibuat ringkasannya.
  • Guru dan peserta didikmenetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
  • Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Peserta didik yang lain:
  1. Menyimak/menunjukkan ide-ide pokok yang kuranglengkap.
  2. Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
  • Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
  • Kesimpulan peserta didik bersama sama dengan guru.
  • Penutup

MODEL PEMBELAJARAN

( 6 )

TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI

Langkah-langkah :

  • Membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang secara heterogen (prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
  • Guru menyajikan pelajaran.
  • Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
  • Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  • Memberi evaluasi.
  • Kesimpulan.

MODEL PEMBELAJARAN

( 7 )

MODEL TIM AHLI

Langkah-langkah :

  • Peserta didik dikelompokkan kedalam ± 4 anggota tim.
  • Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
  • Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
  • Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
  • Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali kekelompok asal dan bergantian menjelaskan kepada teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
  • Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
  • Guru memberi evaluasi.
  • Penutup.

MODEL PEMBELAJARAN

( 8 )

PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH

Langkah-langkah :

  • Guru menjelaskan kompetensi yang akan dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
  • Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll).
  • Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah.
  • Guru membantu peserta didik dalam merencanakan / menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
  • Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses proses yang mereka gunakan.

Semoga bermanfaat,

Sukses selalu,

Nantikan lanjutan model pembelajaran yang lain di edisi mendatang……

Salam!!

-sie bangkur-

MODEL PEMBELAJARAN

(disarikan dari materi bimtek ktsp-depdiknas)upinipin

Proses Pembelajaran pada Satuan Pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Peraturan Pemerintah No.19/2005 pasal 19)

Untuk mewujudkan Peraturan Pemerintah tersebut, maka guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik. Penguasaan model pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran.

Yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru dikelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik dengan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran.

Lantas pertanyaannya bagi kita, ADAKAH MODEL PEMBELAJARAN YANG PALING EFEKTIF?

Ternyata, TIDAK ADA model pembelajaran yang ”paling efektif” untuk semua mata pelajaran atau untuk semua materi. Karena pemilihan model pembelajaran untuk diterapkan oleh guru didalam kelas harus mempertimbangkan beberapa hal :

  • Tujuan pembelajaran
  • Sifat materi pelajaran
  • Ketersediaan fasilitas
  • Kondisi peserta didik
  • Alokasi waktu yang tersedia.

Pada intinya, Ciri-ciri Model Pembelajaran yang baik mencakup :

  • Adanya keterlibatan entelektual-emosional peserta didik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat dan pembentukan sikap.
  • Adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama pelaksanaan model pembelajaran.
  • Guru bertindak sebagai fasilitator, koordinator, mediator dan motivator kegiatan belajar peserta didik.
  • Penggunaan berbagai metode, alat dan media pembelajaran.

Mulai edisi ini, kami coba tampilkan model-model pembelajaran, yang mungkin bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para guru yang mengidamkan dapat melaksanakan pembelajaran yang bervariasi dan menyenangkan.

MODEL PEMBELAJARAN

 

( 1 )

EXAMPLES NON EXAMPLES

( Contoh dapat dari kasus/gambar yg relevan dengan KD )

Langkah-langkah :

  • Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  • Guru menempelkan gambar dipapan tulis atau ditayangkan melalui OHP/LCD.
  • Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis gambar.
  • Melalui diskusi kelompok 2 – 3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas.
  • Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
  • Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang diinginkan.
  • Kesimpulan.

MODEL PEMBELAJARAN

( 2 )

PICTURE AND PICTURE

Langkah-langkah :

  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  • Guru menyajikan materi sebagai pengantar
  • Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
  • Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian untuk memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
  • Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
  • Dari alasan/urutan gambar tsb guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
  • Kesimpulan/rangkum

MODEL PEMBELAJARAN

( 3 )

KEPALA BERNOMOR

Langkah-langkah :

  • Peserta didik dibagi dalamkelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor.
  • Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
  • Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
  • Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dan peserta didik yang nomornya dipanggil melaporkan hasil kerjasama diskusi kelompoknya.
  • Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain, dst.
  • Kesimpulan

MODEL PEMBELAJARAN

( 4 )

KEPALA BERNOMOR  STRUKTUR

( Modifikasi dari Kepala Bernomor )

Langkah-langkah :

  • Peserta didik dibagi dalamkelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor.
  • Penugasan diberikan kepada setiap peserta didik berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai. Misalnya: peserta didik no 1 bertugas mencatat soal, peserta didik no 2 mengerjakan soal dan peserta didik no 3 melaporkan hasil pekerjaan, dan seterusnya….
  • Jika perlu, guru dapat menyuruh kerjasama antar kelompok. Peserta didik disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa peserta didik bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini peserta didik dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerjasama mereka.
  • Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain.
  • Kesimpulan.

Beberapa model pembelajaran yang kali ini kami tampilkan, mudah-mudahan bermanfaat. Beberapa lagi akan kami tampilkan dan lanjutkan diedisi mendatang……

Sekali lagi, modifikasi dan kreativitas model pembelajaran dari para guru tentu akan membuat pembelajaran menjadi lebih variatif dan menyenangkan.

Selamat mencoba, selamat berkreasi,

Semoga Sukses.

Nantikan model lain diedisi mendatang.

Salam!

PENGEMBANGAN SILABUS

( disarikan dari materi bimtek ktsp-dit. Pembinaan sma )

Hii..Hiii..

PENGERTIAN SILABUS

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar.

Silabus menjawab pertanyaan :

  1. Apa kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik?
  2. Bagaimana cara mencapainya?
  3. Bagaimana cara mengetahui pencapaiannya?

PRINSIP PENGEMBANGAN SILABUS

1. Ilmiah,

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2. Relevan,

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, social, emosional, dan spiritual peserta didik.

3. Sistematis,

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4. Konsisten,

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar dan sistem penilaian.

5. Memadai,

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6. Aktual dan Kontekstual,

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7. Fleksibel,

Keseluruhan Komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi disekolah dan tuntutan masyarakat.

8. Menyeluruh,

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

UNIT WAKTU SILABUS

Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.

Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, pertahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.

Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.

Pengembangan silabus dilaksanakan/dilakukan oleh :

  1. Guru Mata Pelajaran, atau
  2. Kelompok Guru Mata Pelajaran atau MGMP.

KOMPONEN SILABUS

Komponen dalam silabus mencakup antara lain :

  1. Standar Kompetensi
  2. Kompetensi Dasar
  3. Indikator (dikembangkan berdasarkan KD)
  4. Materi Pokok/Pembelajaran
  5. Kegiatan Pembelajaran (mengacu pada Indikator)
  6. Penilaian
  7. Alokasi Waktu
  8. Sumber Belajar

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SILABUS

1. Mengkaji dan Menentukan Standar Kompetensi Mata   Pelajaran,

Dengan memperhatikan hal-hal:

  1. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi.
  2. Keterkaitan antar SK dan KD dalam Mata Pelajaran.
  3. Keterkaitan SK dan KD antar Mata Pelajaran.

2. Mengkaji Kompetensi Dasar Mata Pelajaran,

Dengan memperhatikan hal-hal:

  1. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi.
  2. Keterkaitan antar SK dan KD dalam Mata Pelajaran.
  3. Keterkaitan SK dan KD antar Mata Pelajaran.

3. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi,

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.

Digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

Dalam Pengembangan Indikator, setiap KD dikembangkan menjadi beberapa Indikator.

Indikator menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan/atau diobservasi, dan Tingkat kata kerja dalam indikator lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam KD maupun SK.

Prinsip pengembangan indikator adalah sesuai dengan kepentingan (urgensi), kesinambungan (kontinuitas), kesesuaian (relevansi) dan keterpakaian.

Keseluruhan Indikator dalam satu KD merupakan tanda-tanda, perilaku, dan lain-lain untuk pencapaian kompetensi yang merupakan kemampuan bersikap, berfikir, dan bertindak secara konsisten.

4. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran,

Dengan mempertimbangkan :

  • Potensi peserta didik,
  • Relevansi dengan Karakteristik daerah,
  • Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual peserta didik,
  • Kebermanfaatan bagi peserta didik,
  • Struktur keilmuan,
  • Aktualitas, kedalaman dan keluasan materi pembelajaran,
  • Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan,
  • Alokasi waktu.

5. Pengembangan Kegiatan Pembelajaran,

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi.

Pengalaman belajar dapat terwujud melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik, dan memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

6. Menentukan Jenis Penilaian,

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Yang perlu diperhatikan dalam menentukan penilaian :

  • Untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, yang dilakukan berdasarkan indikator.
  • Menggunakan acuan kriteria.
  • Menggunakan sistem penilaian berkelanjutan.
  • Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut.
  • Sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran.

7. Menentukan Alokasi Waktu.

Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD.

Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

8. Menentukan Sumber Belajar,

Sumber belajar adalah rujukan, obyek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

CONTOH FORMAT SILABUS

(1)

Nama Sekolah                  :

Mata Pelajaran                :

Kelas/Semester              :

Standar Kompetensi     :

KD Materi Pembela jaran Kegiatan Pembela jaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(2)

Nama Sekolah                             :

Mata Pelajaran                           :

Kelas/Semester                          :

Standar Kompetensi                 :

Kompetensi Dasar                     :

Materi Pembelajaran               :

Kegiatan Pembelajaran           :

Indikator                                       :

Penilaian                                        :

Alokasi Waktu                              :

Sumber Belajar                            :

 

PENGEMBANGAN SILABUS BERKELANJUTAN

Karena Silabus :

  • Dijabarkan kedalam rencana Pelaksanaan Pembelajaran
  • Dilaksanakan, dievaluasi dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru
  • Dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran) dan evaluasi rencana pembelajaran.

 

SEMOGA BERMANFAAT!!

Salam !!

-sie bangkur-

Standar Nasional Pendidikan (SNP)nggaya..

adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global.
SNP berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
SNP bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
SNP meliputi 8 standar, yaitu :
  1. Standar Isi
  2. Standar Proses
  3. Standar Kompetensi Lulusan
  4. Standar Pendidik & Tenaga Kependidikan
  5. Standar Sarana & Prasarana
  6. Standar Pengelolaan
  7. Standar Pembiayaan
  8. Standar Penilaian.

Kurikulum dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Kurikulum dan KTSP termuat dalam Standar Isi.
KTSP adalah Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Sekolah dan Kepala Sekolah mengembangkan KTSP dan silabus berdasarkan :
Kerangka dasar kurikulum dan Standar kompetensi, di bawah koordinasi dan supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi.

Penyusunan KTSP berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,  SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya.
Tanggung Jawab Kelembagaan dalam Pengembangan & Penerapan KTSP dapat dilihat sebagai berikut:
  • Pusat
  1. Penggandaan dan distribusi dokumen-dokumen.
  2. Sosialisasi & pelatihan kepada pendidik dan tenaga kependidikan
  3. Bantuan profesional dan pendampingan pengembangan Kurikulum
  4. Pengembangan model kurikulum dan contoh silabus yang dapat diadopsi atau diadaptasi oleh sekolah
  • Provinsi
  1. Pembentukan Tim Sosialisasi KTSP: widyaiswara, dosen PT setempat, dan tim pengembang kurikulum provinsi.
  1. Perencanaan dan pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan KTSP untuk tingkat kabupaten dan kota.
  2. Penyediaan dana bagi koordinasi dan supervisi agar tim dapat melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.
  • Kabupaten/Kota
  1. Pembentukan Tim Sosialisasi KTSP Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 
  2. Perencanaan dan pelaksanaan sosialisasi kepada satuan pendidikan di wilayah masing-masing.
  3. Pelatihan dan pembinaan secara terus menerus kepada satuan pendidikan.
  4. Penyediaan dana bagi pelaksanaan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan.
  • Sekolah/Satuan Pendidikan
  1. Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum Sekolah
  2. Penyusunan dan pelaksanaan kurikulum dilakukan sebagai bagian dari progran tahunan sekolah.
  3. Penyusunan KTSP dapat dilakukan dengan cara: membuat sendiri dan/atau mengadopsi dan mengadaptasi model-model yang disediakan.

KONSEP DASAR DAN IMPLEMENTASIWater lilies

A. Konsep Dasar Pembelajaran

  1. Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik.

Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan.

Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental.

Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik  yang mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah:  lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat).

Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh guru di sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh guru.

Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991).

Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne, 1985). Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993)

Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif.

Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992). Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey).

Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja.

Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. Faktor lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah.

Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry).

Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal.

Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:

  1. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
  2. sumber referensi terbatas;
  3. jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
  4. alokasi waktu terbatas; dan
  5. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak.

Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut.

  1. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran
  2. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran
  3. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran
  4. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran.

Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan:

  1. karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;
  2. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;
  3. jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;
  4. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan
  5. alokasi waktu cukup tersedia.

Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah sebagai berikut.

  1. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah
  2. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara
  3. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data
  4. Menganalisis data dan melakukan verifikasi
  5. Melakukan generalisasi

Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.

Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya.

2. Prinsip Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukan dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara akhir hasil pembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.

Prinsip pembelajaran berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:

  1. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensinya.
  2. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam KD dan SK tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.
  3. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu dalam kelas dengan jumlah tertentu, guru perlu memberikan layanan individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta didiknya.
  4. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus menerus menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya.
  5. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan.
  6. Pembelajaran dilakukan dengan multi strategi dan multimedia sehingga memberikan pengalaman belajar beragam bagi peserta didik.
  7. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan narasumber

Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.

Tujuh konsep utama pembelajaran kontekstual, yaitu:

  1. Constructivisme
  • Belajar adalah proses aktif mengonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman alami maupun manusiawi, yang dilakukan secara pribadi dan sosial untuk mencari makna dengan memproses informasi sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimiliki
  • Belajar berarti menyediakan kondisi agar memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya
  • Kegiatan belajar dikemas menjadi proses mengonstruksi pengetahu-an, bukan menerima pengetahuan sehingga belajar dimulai dari apa yang diketahui peserta didik. Peserta didik menemukan ide dan pengetahuan (konsep, prinsip) baru, menerapkan ide-ide, kemudian peserta didik mencari strategi belajar yang efektif agar mencapai kompetensi dan memberikan kepuasan atas penemuannya itu.

2. Inquiry

  • Siklus inkuiri: observasi dimulai dengan bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, dan menarik simpulan.
  • Langkah-langkah inkuiri dengan merumuskan masalah, melakukan  observasi, analisis data, kemudian mengomunikasikan hasilnya

3. Questioning

  • Berguna bagi guru untuk: mendorong, membimbing dan menilai peserta didik; menggali informasi tentang pemahaman, perhatian, dan pengetahuan peserta didik.
  • Berguna bagi peserta didik sebagai salah satu teknik dan strategi belajar.

4. Learning Community

  • Dilakukan melalui pembelajaran kolaboratif
  • Belajar dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga kemampuan sosial dan komunikasi berkembang

5. Modelling

  • Berguna sebagai contoh yang baik yang dapat ditiru oleh peserta didik seperti cara menggali informasi, demonstrasi, dan lain-lain.
  • Pemodelan dilakukan oleh guru (sebagai teladan), peserta didik, dan tokoh lain.

6. Reflection

  • Tentang cara berpikir apa yang baru dipelajari
  • Respon terhadap kejadian, aktivitas/pengetahuan yang baru
  • Hasil konstruksi pengetahuan yang baru
  • Bentuknya dapat berupa kesan, catatan atau hasil karya

7. Autentic Assesment

  • Menilai sikap, pengetahuan, dan ketrampilan
  • Berlangsung selama proses secara terintegrasi
  • Dilakukan melalui berbagai cara (test dan non-test)
  • Alternative bentuk: kinerja, observasi, portofolio, dan/atau jurnal

B. Implementasi Pengembangan Kegiatan Pembelajaran

Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan pembelajaran perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP), kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar yang menerapkan sistem paket, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA terdiri dari 45 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur memanfaatkan 0% – 60% dari waktu kegiatan tatap muka.

Sementara itu bagi sekolah kategori mandiri yang menerapkan sistem kredit semester, beban belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). 1 (satu) sks tingkat SMA terdiri dari 1 (satu) jam pelajaran (@45 menit) tatap muka dan 25 menit tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Dengan demikian, pada sistem paket maupun SKS, guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.

1. Kegiatan Tatap Muka

Untuk sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi.

Untuk sekolah yang menerapkan sistem SKS, kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi dikoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi.

2. Kegiatan Tugas terstruktur

Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.

Bagi sekolah yang menerapkan sistem SKS, kegiatan tugas terstruktur dirancang dan dicantumkan dalam jadwal pelajaran meskipun alokasi waktunya lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan tatap muka. Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi.

3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru namun tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran baik untuk sistem paket maupun sistem SKS. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.

MEKANISME PENGEMBANGAN

A. Mekanisme

Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP (KTSP) dan silabus mata pelajaran. Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan pembelajaran.

Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat kerja dan/atau kegiatan MGMP.

Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari, potensi dan kebutuhan peserta didik, sumber daya, fasilitas, lingkungan, dan lain-lain. Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru, hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang), atau informasi bagian inventarisasi di sekolah, serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran.

Hasil pengembangan dituangkan dalam rancangan kegiatan pembelajaran dalam bentuk silabus dan desain pembelajaran, rancangan pelaksanaan pembelajaran lebih rinci (RPP), desain penilaian dan instrumennya, serta dilaksanakan secara efektif dan efisien. Mekanisme kerja tim pengembang kurikulum, MGMP, dan guru mata pelajaran disajikan dalam skema berikut ini.

B. Langkah-Langkah

Pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengkaji dan memetakan KD (KD) agar diketahui karakteristiknya. Hal ini perlu dilakukan guna merancang strategi dan metode yang akan digunakan pada kegiatan tatap muka, tugas terstruktur, dan mandiri tidak terstruktur.
  2. Mendeskripsikan KD secara lebih rinci dan terukur ke dalam rumusan indikator kompetensi. Indikator berguna untuk merancang kegiatan pembelajaran yang diperlukan. Indikator yang dominan pada prinsip dan prosedural misalnya, menyarankan kegiatan pembelajaran dengan strategi diskoveri inkuiri.
  3. Membuat desain pembelajaran dalam bentuk silabus atau desain umum pembelajaran seperti disajikan dalam Contoh Desain Umum Pembelajaran Sistem SKS.
  4. Menjabarkan silabus atau desain pembelajaran dalam bentuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tiap pertemuan.
  5. Melaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/desain pembelajaran dan RPP.
  6. Melakukan penilaian proses maupun hasil belajar untuk mengukur pencapaian kompetensi

Contoh Desain Umum Pembelajaran :

MING GU KE KOMPETENSI DASAR KEGIATAN PEMBELAJARAN
TATAP MUKA TUGAS TERSTRUKTUR KEGIATAN MANDIRI
1 1.1.  Mengukur besaran fisika (massa, panjang, dan waktu) Guru

  1. melakukan questioning pengalaman  siswa tentang mengukur, besaran, dan satuan
  2. menjelaskan aspek penting dalam mengukur
  3. praktik mengukur di laboraorium
  1. mendata alat ukur yang sering digunakan sehari-hari
  2. membuat  laporan hasil praktik
2
Dst.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.